Liburan ke kota Kembang Bandung

Month: March 2014

Tarian Rakyat Ketuk Tilu

Tarian Rakyat Ketuk Tilu

Dikalangan rakyat pada waktu itu dikenal tarian rakyat ketuk Tilu yang dalam sejarahnya kesenian yang berfungsi sebagai upacara menyambut panen padi sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Dewi Sri ( dewi padi ) upacara dilakukan pada malam hari yang mengarak seorang gadis sebagai lambang dewi sri dengan diiringi bunyi-bunyian dan […]

Mengenal Sejarah Aksara Sunda

Mengenal Sejarah Aksara Sunda

Mengenal sejarah aksara sunda, pada awal tahun 2000-an pada umumnya masyarakat Jawa Barat hanya mengenal adanya satu jenis aksara daerah Jawa Barat yang disebut sebagai Aksara Sunda. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa setidaknya ada empat jenis aksara yang menyandang nama Aksara Sunda, yaitu : Aksara Sunda […]

Asal Mula Nama-Nama Jalan Di Bandung

Asal Mula Nama-Nama Jalan Di Bandung

Bandung adalah nama sebuah kota dan digelari nama “Paris van Java” karena keindahannya. Luas wilayah 167,3Km2, Jumlah penduduknya 2,8 juta jiwa (Sensus 2007), Kota Terpadat ke – 3 di Indonesia, setelah Kota Jakarta dan Kota Surabaya, dibagi dalam 30 Kecamatan. Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun. Banyak sekali nama-nama jalan di Bandung, berikut ini adalah asal mula nama-nama jalan di Bandung.

Asal Mula Jalan Wastukancana Bandung

Jl. Wastukancana sering disingkat menjadi Wastu. Nama ini diambil dari nama seorang raja Pajajaran bernama Niskala Wastukancana. Pada saat perang Bubat, Wastukancana masih berumur 9 tahun. Ayah dan kakak Wastukancana, Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, gugur di medan Bubat. Wastukancana naik tahta saat umurnya 23 tahun. Beliau memegang singgasana Pajajaran selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari.

Dahulu nama jalan Wastukancana ini adalah Engelbert Van Bevervoordeweg. Wuih, rada ribet ya untuk lidah kita. Kapten Engelbert van Bevervoorde adalah pelopor dunia penebangan militer Belanda. Beliau meninggal dunia pada tahun 1918 setelah pesawat Glenn Martin yang dikemudikannya jatuh di Bandara Sukamiskin. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Belanda membuat patung dirinya pada tahun 1920. Patung tersebut diletakkan di sebuah tikungan jalan yang sekarang adalah Jalan Wastu Kencana. Setelah Indonesia merdeka, patung tersebut dipindahkan ke Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda.

Asal Usul Jalan Siliwangi Bandung

jalan siliwangi

Dahulu jalan ini bernama Dr. De Greerweg. Kata Siliwangi diambil dari seorang tokoh mitologis dan legendaris dalam satra dan sejarah Sunda, yaitu Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah raja Pajajaran yang terkenal karena kepemimpinannya dapat menjadikan masyarakat Pajajaran yang sejahtera, adil dan makmur. Jalan Siliwangi dibangun untuk memperlancar hubungan antara bagian barat dan timur kota Bandung. Pemberian nama Siliwangi dilakukan untuk mengenang tokoh bersejarah tersebut.

Jalan ini cukup terkenal di Bandung. Terdapat mural terpanjang di Indonesia yang sering dijadikan ‘kanvas’ teman-teman dari Seni Rupa ITB. Kawasan jalan Siliwangi masih dirimbuni pepohonan yang besar dan tua. Jika malam hari terkadang lampu jalanan tidak menyala, akibatnya kondisi di jalan tersebut gelap gulita di beberapa titik.

Asal Usul Jalan Banceuy di Bandung

Banceuy adalah nama jalan di kota Bandung yang perpotongannya dari jalan Asia Afrika (salah satunya). Di Jalan ini kita bisa mengunjungi salah satu pabrik kopi bernama Kopi Aroma. Selain pabrik, disini juga tokonya. Jadi sambil lihat pembuatan kopi, kita bisa juga membeli kopi-kopinya. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KKUBS), Banceuy diartikan sebagai kampung yang bersatu dengan istal (kandang kuda). Kampung disini artinya tempat tinggal pera pengurus kuda (dan keretanya). Dengan demikian penamaan daerah ini dilakukan atau diadaptasi berdasarkan fenomena sosiologis. Yaitu kondisi yang pernah terjadi di daerah tersebut berkenaan pula dengan hal-hal yang pernah dialami oleh masyarakat.

Kawasan Banceuy dulu pernah dijadikan tempat peristirahatan dan tempat mengganti kuda, khususnya untuk keperluan transportasi dan penyampaian benda-benda pos. Dahulu surat dikirim dengan menggunakan jasa transportasi kuda. Bagaimana kiranya jika benda pos harus dikirim dari Semarang ke Bandung? Tentu tidak cukup hanya dengan menggunakan kuda yang itu-itu saja. Tetapi harus diganti. Nah di Banceuy-lah tempat ganti kuda ini. Dahulu pula di daerah ini terdapat sebuah loji (penjara) yang bersebelahan dengan kandang kuda. Penjara Banceuy namanya. Pemerintah kolonial penah memenjarakan Soekarno disini. Sel tempat Soekarno dikurung ‘dimuseum’kan, sementara bangunan penjara yang lain telah dirobohkan dan sekarang jadi ruko. Karena lokasinya yang bersebelahan dengan kandang kuda, maka daerah ini pun pernah disebut Loji Banceuy. Banceuy nama asal jalannya adalah bantjeuyweg dan diresmikan pemerintah kolonial pada tahun 1871. Sekarang jadi jalan Banceuy.

Asal Usul Jalan Buah Batu Bandung

Untuk yang belum tahu, Bandung itu dahulunya adalah sebuah danau yang super luas. Seiring berjalannya waktu, air danau ini menyusut dan bermunculanlah sembulan-sembulan daratan yang diselingi beberapa cekungan yang masih tergenang air. Diantara sekian jumlah cekungan air, terdapat sebuah telaga yang banyak mengandung bebatuan. Di tepi telaga tersebut banyak terdapat pohon mangga (Sunda : buah). Melihat keadaan seperti itu, masyarakat yang tinggal disekitarnya secara spontan menyebut daerahnya menjadi Buah Batu. Sekarang daerah ini jadi kawasan yang ramai. Masyarakat Bandung menyebut Buah Batu jadi Bubat.

Asal Usul Jalan Cihampelas Bandung
Ini dia salah satu jalan yang paling banyak menampung wisatawan lokal dan internasional. Jalan Cihampelas. Pola penamaan jalan ini terbentuk melalui dua aspek : Hidrologis dan biologis. Cihampelas berasal dari gabungan dua kata.

  1.  Ci = Cai, yang artinya air (Sunda)
  2.  Hampelas = Nama jenis pohon yang daunnya kasar, seperti kertas amril (ampelas) yang digunakan untuk menggosok atau menghaluskan besi dan kayu.

Dengan demikian, Cihampelas jika diartikan secara bebas dapat memiliki dua pengertian. Pertama, air yang memiliki khasiat untuk menghaluskan kulit atau membersihkan hal lainnya. Kedua, sebuah daerah aliran sungai yang disekitarnya terdapat banyak pohon Hampelas.

Asal Usul Jalan Lengkong Bandung
Jalan yang pada masa pemerintahan kolonial bernama Groote Lengkong ini mengandung arti “teluk”. Kawasan ini pada jaman dahulu merupakan sebuah teluk yang besar (hal ini berkaitan dengan asal muasal Bandung sebagai sebuah danau raksasa, danau purba). Ketika danau Bandung surut, ada beberapa wilayah yang masih tergenang air.

Asal Usul Grootepostweg alias Jl. Asia Afrika

Jalan Anyer – Panarukan dibuat atas perintah Raja Belanda Louis Napoleon kepada Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pada awal tahun 1800an. Tujuan utama pembuatan jalan itu adalah untuk memperkuat pertahanan Belanda di pulau Jawa dari serangan tentara Inggris yang konon berencana mengambil alih Pulau Jawa dari tangan Belanda. Masih inget pelajaran sejarah? Kita dijajah Belanda sementara Malaysia dijajah Inggris? Hmm …

Jalan yang pada saat itu disebut sebagai Groote Postweg (groote = great = besar, post = pos, weg = jalan) ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi pulau jawa dan menelan nyawa 30.000 ‘koeli’ pribumi. Bayangkan kalau diambil rata-rata berarti setiap 1 km dikorbankan nyawa 30 pribumi untuk pembuatan jalan ini, miris enggak sih? Sesudah itu, ternyata fungsi Groote Postweg yang utama ini ternyata gagal dicapai, karena akhirnya Belanda menyerah pada Inggris setelah diserang melalui Pelabuhan Semarang di tahun 1811.

Pengorbanan 30.000 pribumi itu pada akhirnya membawa hikmah juga, banyak hal baik muncul karena terciptanya si Groote Postweg ini. Diantaranya kelahiran Kota Bandung Modern. Karena memang Bandung yang kita kenal sekarang ini konon katanya direlokasikan dari lokasi sebelumnya (Dayeuh Kolot sekarang, dayeuh = kota, kolot = tua) atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II. Karena blueprint pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata berselisih jarak sekitar 11 km dari lokasi kabupaten Bandung pada saat itu, yang sekitar dayeuh kolot itu. Mungkin Daendles berpikir kalau sebuah kota mau maju, maka kota tersebut harus mudah diakses -artinya harus kelewatan jalan baru ini dong.

Warna-Warni Wisata Kuliner Bandung

Warna-Warni Wisata Kuliner Bandung

Kota Bandung yang juga dikenal sebagai Paris van Java karena keindahan kotanya ternyata juga menyimpan harta karun lain di dalamnya. Harta karun tersebut adalah warisan kuliner yang turun temurun hingga menjadi ciri khas dari Kota Bandung itu sendiri. Macam-macam wisata kuliner Bandung kini menjadi elemen […]

Calung Sunda

Calung Sunda

Calung yang hidup dan dikenal masyarakat sekarang merupakan prototipe dari angklung yang cara menabuhnya berbeda dengan angklung , cara menabuh calung yaitu dengan memukul-mukul batang (wilahan) dari ruas-ruas atau tabung bambu yang tersususn menurut titi laras (tangga Nada) penta tonik (da mi na ti la […]

Jejak Manusia Prasejarah di Gua Pawon

Jejak Manusia Prasejarah di Gua Pawon

Para peneliti Balai Arkeologi (Balar) Bandung menemukan lagi jejak manusia prasejarah di Gua Pawon, Kabupaten Bandung Barat. Penggalian pada Sabtu dan Ahad, 1-2 Maret 2014 mendapatkan tulang telapak jari kaki. “Diperkirakan berusia lebih tua dari 9.500 tahun lalu. Lokasi penemuan terbaru berada di tempat yang sama dari kuburan manusia prasejarah temuan kedua. Jarak kedalamannya selisih 20 sentimeter atau 180 sentimeter dari permukaan tanah gua.

Tim masih melakukan penggalian untuk menyingkap sosok utuh kerangka manusia prasejarah tersebut, juga menghitung umurnya. Selain itu, peneliti juga menemukan sisa tempat makan, tulang belulang sisa makanan, dan temuan artefak batu gamping. Manusia prasejarah diketahui hidup pada 1,8 juta tahun lalu. Mereka diketahui menghuni gua dengan usia paling tua sejak 30-35 ribu tahun silam. Di Indonesia, sejauh ini ada manusia prasejarah di Jawa Timur yang lebih tua menghuni gua dibandingkan dengan di Gua Pawon.

manusia prasejarah

Dari tumpukan kuburan manusia prasejarah di Gua Pawon tersebut, kata Lutfi, pertanda Gua Pawon sejak lama telah menjadi hunian. Bisa jadi penghuninya turun temurun tinggal, sehingga perlu dilakukan tes DNA pada kerangka temuannya. Temuan manusia prasejarah di Gua Pawon awalnya dari anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung. Pada 1999, anggota kelompok yang berlatar keilmuan geologi dan geografi tersebut menemukan batu gamping seperti pisau.

Sejak 2000-2012, peneliti mendapatkan 5 kerangka manusia prasejarah, berusia 5.600-9.500 tahun lalu, di kedalaman 80, 140, dan 160 sentimeter. Lokasi temuan di sebelah utara gua itu kini sudah dipagari untuk kepentingan penelitian. Gua Pawon berada di kawasan karst atau batu kapur Citatah, di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Bandung. Gua seluas 300 meter persegi lebih itu terdiri dari beberapa rongga seperti kamar, juga beberapa jendela alami yang besar.

Objek wisata Oray Tapa Bandung

Objek wisata Oray Tapa Bandung

Wisata Oray Tapa Terletak di daerah Desa Mekar Manik, Kec Cimenyan, Bandng Timur, terdapat sebuah objek wisata pegunungan yang menawarkan keindahan alamnya yang bernama wisata Oray Tapa. Tempat wisata ini mempunyai luas wilayah sekitar 5 hektar dan di kelola oleh pemerintahan setempat serta beberapa perusahaan […]

Objek Wisata Caringin Tilu Bandung

Objek Wisata Caringin Tilu Bandung

Caringin Tilu merupakan salah satu objek wisata pegunungan yang terdapat di kota Bandung bagian Utara. Tempat wisata ini menawarkan beragam potensi keindahan alamnya yang secara tidak langsung anda akan melihat pemandangan kota Bandung dari atas pegunungan. Objek wisata Caringin Tilu Bandung mempunyai prospek kedepan yang […]